Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tuntunan VS Tontonan


TUNTUNAN VS TONTONAN



Oleh EDI RUSYANDI
Guru MTs Syarif Hidayatulloh Cipongkor Kabupaten Bandung Barat

Naluri setiap orang tua menghendaki anak-anaknya memiliki kehidupan yang “lebih baik” dibanding dirinya. Baik akhlaknya, demikian pula nasibnya. Sekalipun orang tua itu penjahat, dipastikan harapan kepada anaknya kelak adalah menjadi “orang baik”. Cukuplah dia menjadi orang jahat, jangan diikuti oleh anak-anaknya. 

Pada masa sekarang, untuk menjadi orang baik dan mengubah nasib masa depan itu kebanyakan masyarakat (orang tua) menggantungkannya kepada lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah. Betapapun mahalnya kocek yang harus dirogoh. Kondisi demikian berdampak pada resiko lebih setiap lembaga pendidikan. Bagi anak yang membanggakan, sekolah pun akan terbawa mendapat pujian. Demikian pula sebaliknya, jika ada anak yang nakal dan mengecewakan sekolahpun terbawa-bawa menuai cibiran. Dimana anak itu sekolahnya? Lebih jauhnya, acap kali sekolah menjadi tempat paneumleuhan manakala ada masalah serius yang menimpa anak didiknya. 

Apalagi pada kedua orang tua yang yang memiliki aktifitas super sibuk. Kesempatan bercengkrama dengan anak-anak hanya didapat pada sedikit jam malam. Bagi orang tua berkecukupan, di luar jam itu kehidupan anak-anaknya dipandu oleh sekolah atau di tempat penitipan anak. Selain itu, agar anak-anaknya betah dan nyaman tinggal di rumah disediakanlah perangkat digital semacam ponsel maupun audio visual sebagai teman hidup sehari-harinya. 
Dunia telah berubah. Kehidupan anak-anak belasan tahun yang lalu berbeda dengan anak yang dilahirkan pada masa kini. Dengan kemajuan teknologi dan informasi, kehidupan anak-anak masa kini lebih akrab dengan apa yang nampak dilayar kaca dibanding dengan pengalaman sosialnya yang nyata dijalani, baik tontonan di televisi maupun hasil dari sentuhannya pada perangkat digital. Pergeseran ini tidak hanya terjadi di kota-kota, namun juga telah merambah kehidupan anak-anak di perkampungan. 

Dulu keseharian anak-anak dikampung, dari pagi sampai siang di sekolah dengan bimbingan guru. Siang sampai sore terlibat rupa-rupa permainan tradisional dan petualangan palemburan. Saat itu kita mengenal permainan yang dinamakan congkak, sondah, kastik, bakpiak, ler-leran, ucing sumput, main kaleci, boy-boyan, dan lain sebagainya. Dalam permainan itu terdapat nilai kerjasama, stimulasi otak, uji nyali dan keberanian. Tumbuh kembang anak pun riang gembira dalam keakraban sosial sesamanya. Olah otak dan olah raga. Pada sore sampai malam aktif di tempat pengajian. Dalam bimbingan para ajeungan anak kita dibimbing ngaji qura’an, penanaman aqidah (tauhid), bimbingan ibadah dan akhlaq. Dan yang pasti tidak memerlukan biaya yang mahal. Jika pun ada biayanya lebih karena kesukarelaan. Di pengajian ini, anak kita digembeleng sisi spiritualnya (olah jiwa).

Berbeda dengan saat ini, dengan aneka rupa suguhan tontonan itu anak-anak kita lebih banyak waktu dengan rutinitas personalnya. Sialnya tontonan yang dihadirkan itu lebih menonjolkan aspek negatif dibandingkan nilai positifnya. Perhatikanlah macam-macam acara televisi kita saat ini yang hampir kebanyakan menonjolkan aspek konsumerisme, pergaulan bebas dan hedonisme, egoisme, bahkan sarat kekerasan. Dimana letak peran edukasinya dari media itu?
Berbagai tuntutan untuk mengontrol dan mengehentikan tayangan televisi yang rawan merusak karakter dan prilaku anak sudah banyak disuarakan masyarakat, pelaku pendidikan dan pemerhati media, namun tak juga digubris. Komisi Negara (KPI) yang berwenang dalam hal ini pun sepertinya tumpul. Kesadaran orang tua akan bahaya aneka rupa tontonan itu pun masih minim. Terkadang banyak orang tua pun larut bersama-sama anaknya menjadi konsumen tayangan tidak bermutu itu. 

Jika ada kemauan dan sikap tegas dari pemerintah sebenarnya bukanlah hal yang muusykil untuk ditindak demi melindungi dan menyelamatkan masa depan anak. Anak masa kini adalah investasi, sebagai penggerak peradaban bangsa masa depan. Kita masih menanm harapan, bangsa ini ke depan kuat dengan ditopang oleh generasi yang kuat pula. Revolusi mental hanya menjadi basa-basi, jika tontonan sudah kalindih oleh tontonan? 

Lembur Sawah, 17 Februari 2016, 11:24 WIB

Posting Komentar untuk "Tuntunan VS Tontonan"